Yuk.. kenalan dulu sama diabetes.
Pak irwan seorang penderita diabetes, suatu ketika ada luka kecil di kakinya. Dia pikir itu akan sembuh dengan sendirinya dan tidak membahayakan. Dia mengabaikannya dan terus bepergian keluarga kota. Tak disangka ternyata lukanya menyebar dan juga membusuk, infeksinya naik sangat tinggi akhirnya dibawa di rumah sakit.
Awalnya dokter sarankan untuk amputasi sampai pergelangan kaki, tapi untungnya akhirnya selamat setelah mendapatkan perawatan dan nutrisi yang tepat. Inilah ngerinya diabetes, banyak membuat penderitanya mengalami amputasi, tapi gak cuma itu. Diabetes “melahirkan” banyak penyakit-penyakit lainnya.
Tahukah anda setiap sel dalam tubuh kita itu sumber energinya adalah gula (glukosa), kalau tidak ada glukosa sel-sel kita bisa lemes tak berdaya.
Namun jumlah gula itu gak boleh terlalu banyak dan gak boleh juga terlalu sedikit, hanya boleh antara 70-100 mg/dL saja.
Kalau kebanyakan gula disebut hiperglikemia dan terlalu sedikit namanya hipoglikemia dan hormon yang mengatur agar kadar gula tetap seimbang adalah hormon insulin. Keseimbangan gula darah ini terganggu jika produksi hormon insulin terganggu dan terjadi resistensi insulin, yaitu tubuh tidak menggunakan hormon insulin secara normal.
Syok dan kaget begitu divonis dokter terkena diabetes.
Banyak orang kaget ketika dinyatakan diabetes. Di negara-negara asia 50 % (bahkan ada yang sampai 85%) tidak sadar kalau mereka terkena diabetes.Karena di tahun-tahun awal munculnya diabetes tidak menunjukkan gejala apa-apa.
Parahnya setelah adanya komplikasi dari diabetes itu barulah penderita melakukan pemeriksaan, pada saat inilah baru diketahui adanya diabetes dan sudah melahirkan penyakit baru.
Yahhh… gaya kuliner jaman sekarang itulah yang mengakibatkan angka penderita diabetes meningkat pesat, termasuk Indonesia.
Bayangkan Indonesia sendiri menempati urutan ke 7 jumlah penderita diabetes terbanyak didunia.
Apalagi pada masa pendemi, resiko kematian penderita diabetes yang terkena sangat tinggi. Pasien COVID-19 dengan diabetes mengalami gejala mencapai 2,75 kali lebih parah dibanding dengan yang tidak memiliki diabetes. Selain itu, risiko kematian pada pasien COVID-19 dengan diabetes pun mencapai hampir 2 kali lipat lebih tinggi. Maka, tak sedikit pula pasien COVID-19 dengandiabetes mengalami penurunan kondisi selama masa penyembuhan.